Kenapa Orang Ingin Viral Dan Terkenal?
Ramai
menjadi perbincangan tentang cara menjadi viral atau terkenal. segala upaya
yang dilakukan mulai dengan meningkatkan prestasi hingga meningkatkan sensasi.
Viral menjadi tolok ukur kesuksesan, kekayaan, sumber kekuatan dan penghormatan
bagi orang-orang yang memujanya.
Ketika
prestasi tidak cukup untuk benar-benar menarik perhatian berbagai kalangan elit
yang dinilai akan memberi nilai tukar lebih, maka sensasilah jawabannya. Mulai dengan
membeli followers, membayar orang agar meninggalkan komentar yang positif
seolah-olah audiens layaknya mesin yang tak bisa berfikir.
Tapi
apa sih maksud dari kata viral itu sendiri?
Mengapa
orang-orang begitu menginginkannya?
Menurut
KBBI kata viral itu sendiri vi.ral berkenaan dengan kata virus yang berarti
menyebar luas dan cepat.
Kita
mengetahui Bersama bahwa virus ini dapat menyebar dan menyerang siapapun yang
tidak memiliki proteksi atau perlindungan diri. Tapi disisi lain virus ini bisa
digunakan sebagai alat testing tingkat kekebalan sebuah proteksi. Jika tidak
dikelola dengan baik virus tersebut bisa menjadi pedang bermata dua, yang tajam
dari berbagai arah.
Jika
ingin menaklukkannya dengan cara melumpuhkannya maka kamu sudah pasti akan
terluka, tapi jika dibiarkan begitu saja dia yang akan terlebih dahulu
menaklukkan mu. Cara yang paling tepat ialah memiliki kemampuan untuk tetap
memegangnya, jika ditangan seorang pengrajin pedang akan dibuat semakin tajam
dan berkilau, jika ditangan seorang kesatria maka akan banyak menumpahkan darah,
tapi jangan sekali-kali ditangan orang yang bodoh karena boleh jadi ia akan
melukai dirinya sendiri.
Secara
psikologi manusia memiliki kecendurungan ingin terlihat, ingin didengar, dan
bahkan ingin diakui oleh orang lain. Ketika seseorang merasa diakui dan disukai
oleh banyak orang hal ini dapat memberikan rasa puas dan rasa percaya diri
mereka karena memvalidasi kepopuleran, kecerdasan dan value diri dari besaran angka followers, like, dan
komen.
Selain
pengakuan sosial, viralitas di media sosial juga dapat membuka peluang bisnis
dan karir yang menarik.
Banyak
selebriti internet atau “influencer” yang menghasilkan uang dari endorsement,
iklan dan Kerjasama dengan merek-merek terkenal. Ini bukan hanya berlaku untuk
selebriti internet, Ketika seseorang menciptakan konten yang benar-benar
menarik perhatian produsen, agen berbakat, atau perusahaan yang tertarik untuk
berkolaborasi atau sekadar mempekerjakan mereka.
Alasan
lainnya adalah dengan keviralan ini mengubah cara pandang kita tentang
berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Menjadi viral memberi kesan
bahwa mereka memiliki pengaruh yang besar untuk berkomunikasi dengan banyak
orang dari latar belakang yang sangat berbeda. Semakin viral maka aksi dan
narasi akan semakin cepat didengar.
Pada
zaman dahulu, tokoh-tokoh agama diperintahkan Tuhan mengajak manusia untuk
berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, persis dengan menambah followers bagi
para influencer maupun selebriti, Sama effortnya, juga bagi para tokoh agama yang
telah melakukan beribu upaya mulai dari dakwah, diskusi, bahkan bersikap rendah
hati terhadap orang-orang yang mengatai dan menghinanya. Tapi jika diperhatikan
ada perbedaan yang sangat signifikan dari metode tadi, Kita bisa menilai bahwa
tokoh-tokoh agama itu sendiri lebih mengutamakan pengenalan terhadap tuhan,
edukasi, agar orang-orang benar-benar paham dan tidak salah Langkah dalam
memilih keputusan hidup, guru kehidupan dan pastinya tak ada paksaan dalam hal
tersebut.
Bisa
ditarik makna bahwa perbedaan kedua metode tersebut bisa dilihat dari
tujuannya, pada zaman dulu tujuan menarik followers untuk memberi ilmu yang
bermanfaat, sedangkan yang terjadi sekarang lebih berfokus pada kepopuleran
pribadi.
Tentunya
hal ini memiliki dampak positive dan negatifnya, Tapi apakah keviralan ini
benar-benar membawa dampak positif bagi psikologi manusia?
Jawabannya
bisa iya bisa enggak, mengapa ? karena ego sentris atau permintaan alam bawah
sadar seperti ingin diakui, disukai, didengarkan membuat manusia seolah-olah
memuja ketenaran, mengemis perhatian, dan membeli penghormatan, tak peduli
konten yang bernilai edukasi ataupun sensasi semua dibuat dan dipublish
membranding diri dari permintaan followers yang kadang sama sekali tidak
bersifat mendidik dan bahkan berujung jeruji. Mungkin dalam beberapa waktu
mencapai ketenaran yang diinginkan tapi seketika lenyap seperti kabar yang
dating terbawa oleh angin. Keviralannya tidak abadi seperti viralnya
tokoh-tokoh agama dimasa lalu karena yang dijual bukanlah sensasi tapi
prestasi.
Mengutip
dari kata Dr.Phil “The Bigger The Star, The Smaller The Ego” Sesungguhnya
Seseorang Yang Makin Terkenal, Egonya Akan Semakin Mengecil.
Harusnya
ketenaran tumbuh berkembang Bersama kecerdasan, kebijakan, dan kebaikan jikalau ia tak berguna bagi orang lain
setidaknya menuntun pribadi menjadi lebih lapang dada, lebih rendah hati, dan
tetap iba melihat penderitaan orang lain. Jikalaupun viral ia akan dikenang hingga
menjadi sejarah yang tak habis diceritakan dan diteruskan anak cucu kita.
Mengutip
dari perkataan Rhenald Kasali “Banyak orang merasa pintar hanya karena memiliki
banyak followers, tapi itu bukanlah pintar tapi “sok pintar”.
“Orang-orang
yang cerdas adalah orang-orang yang tidak menonjolkan kepintarannya, didepan
orang-orang yang berpura-pura pintar”.
Viral
dan ketenaran yang sesungguhnya disaat kamu merasa tidak dikenal dan dikenang
tapi orang-orang membicarakanmu.

Posting Komentar untuk "Kenapa Orang Ingin Viral Dan Terkenal?"
Posting Komentar