Perang Paradigma Gen Z dan Gen Baby Boomer Dalam Issue Generasi Sandwich
Kerap terjadi perang paradigma antara sosok ayah dan anak yang berbeda
generasi, terhimpit layaknya roti lapis, seperti sandwich. Panggil saja Hartono
seorang laki-laki dewasa berusia 50-60 tahun memiliki seorang ibu yang sudah
sangat tua, seorang istri dan dua orang anak. Beliau selalu berpesan kepada
kedua anaknya, jika orang tuamu sudah tua rawatlah, tampunglah, biayailah
kebutuhannya seperti layaknya ia membiayaimu sejak kecil. Nasihat tersebut
selalu diberikan hingga anak-anaknya beranjak dewasa.
Andini adalah seorang mahasiswi program studi Ilmu Aktuaria yakni disiplin
ilmu untuk merancang solusi dari permasalahan dan pengelolaan risiko pada
industri perasuransian, dana pensiun, jaminan sosial, investasi, perbankan dan
industri terkait lainnya. Sumber: dikti.kemdikbud.go.id.
1. Apa itu Generasi Sandwich, Gen Z, dan Gen Baby Boomer?
Generasi Sandwich adalah mereka yang punya peran ganda
dalam urusan keuangan karena harus membiayai dirinya sendiri, orang tua, dan
anak. Posisi mereka diibaratkan isian roti lapis yang harus menanggung beban
kedua lapis “roti” atau generasi yang ada di atas (orang tua) dan di bawah
(anak). Istilah generasi sandwich ini diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller,
Profesor dari Universitas Kentucky pada 1981 dalam jurnal berjudul the
‘sandwich’ generation: Adult children of the aging, istilah generasi sandwich
awalnya digunakan untuk merujuk perempuan di usia 30-40 tahun yang harus
merawat anak sekaligus memenuhi kebutuhan orang tua, teman, dan orang-orang
lainnya. Sumber: narasi.tv
Gen Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010
kondisi sosial: realitas berganda, jejaring sosial, digital natives. Tingkah
laku: pengembara identitas, communaholic, mengedepankan dialog realistis.
Konsumsinya akses berdasarkan aspek etis mencari yang unik-unik. Generasi ini
dilabeli sebagai generasi yang minim Batasan, tidak takut resign dari pekerjaan
demi menemukan pengalaman.
Gen Baby Boomer adalah generasi yang lahir dari tahun
1940-1959, katanya memiliki tingkah laku berdasarkan idealisme, revolusioner,
kolektivis. Konsumsi ideologinya piringan hitam dan film, Menghargai setiap
proses.
a. Perbedaan Etos Kerja
Fenomena Ok Boomer muncul sebagai ungkapan sarkastik dari generasi z dan
milenial untuk merespons sikap generasi baby boomer. Menurut mereka, generasi
baby boomers itu gemar menggurui dan kurang relevan untuk zaman sekarang.
Sering dikatain nyolot oleh generasi baby boomers, Gen z tidak mau kalah
membela diri dengan berkata iya generasi kolot. Tok tok tok bunyi suara ketukan
pintu kamar Arini saat dibangunkan ayahnya yang berkata bangunnn rezeki mu
habis dipatok ayam, tak terjawab apa-apa karena arini tengah sibuk nge
freelance di dalam kamarnya.
Satu jam berikutnya arini keluar dari kamarnya menghampiri meja makan,
terlihat ayah dan ibunya sedang menikmati hidangan sarapan paginya. “kamu gak
mau cari kerja?? Kamu ini rebahan terus!! atau kamu nikah saja, liat tuh anak
tetangga udah kerja kantoran, gak lama lagi nikah, ingat!! kamu udah gak muda
lagi lohhh” ujar mama arini, hmmmm iya maaaaa aku kerja kok, cuman
bedanya kerjanya dari rumah!… kerja apaan itu?? dasteran rambut acak2an, gak
wangi, gak rapih, emang berapa gajinya”? ujar ibu arini sedikit meremehkan..
“maahhhh zaman sekarang kerja tuh gak mesti capek-capek ke kantor,
panas-panasan, keringetan, menghadapi drama dengan teman kantor, dapat bos
toxic, yang suka ngasih kerjaan di luar job desc apaan ituu.. jawaban arini
terdengar nyolot.
Uhuk-uhuk terdengar suara batuk dari bapak arini sepertinya geram mendengar
perdebatan mereka berdua, kemudian semuanya terdiam sejenak seperti ingin
menyambut percakapan baru yang akan dimulai ayahnya.. “kamu itu kalau dikasih
tau sama yang lebih tua itu nurut bukan malah ngebantah!! “kamu seharusnya
mendengarkan yang lebih tua dari kamu, yang lebih berpengalaman, tau apa kamu
tentang hidup…” iyaaa paaa, suara arini merendah..
b. Issue Generasi sandwich
Masalah Finansial
“Beep Beep Beeeepppp” suara klakson mobil terdengar dari garasi. Arini
bergegas mendekat dan melihat adiknya mengendarai mobil baru yang diberikan
oleh ayahnya sebagai hadiah atas diterimanya di universitas.
“dimana ayah? Tanya arini.
“ituu, ayah! “seru adiknya, penuh kegembiraan.” Ayah hanya ingin
menyenangkan adikmu, nakk!”
Arini, dengan sedikit cemburu, berkomentar “ Ayah terlalu boros. Seharusnya
ayah lebih hemat untuk dana pensiun”.
Adiknya membela ayah, “kamu tau aku sangat menginginkan ini. Dan nanti,
Ketika aku sudah bekerja, aku akan membantu ayah”
Arini menjelaskan, “tentu saj kita harus berbuat baik kepada orang tua,
tetapi penting bagi ayah untuk mandiri secara finansial. Kita tidak akan
selamanya hidup Bersama. Ayah juga harus berikir tentang masa depan.
Beberapa tahun kemudian, ibu arini meninggal dan ayah mulai sakit. Arini
menjadi penopang keluarga, merawat adiknya, nenek dan ayah mereka yang tidak
bisa lagi bekerja.
Direktur utama Asabri Sonny Widjaja menyebutkan, sebanyak 90% pekerja
Indonesia mengaku tak siap memasuki usia pensiun secara finansial. Data OJK
juga menyebutkan bahwa 93% pekerja formal di Indonesia belum memiliki bayangan
tentang bagaimana rencana selepas masa pensiun. Sumber: Republika.co.id
Bagaimana Cara Memutus Rantai Generasi Sandwich?
Memutus rantai generasi sandwich bukanlah hal yang mudah, tapi perlahan
kawan GNFI akan bisa memutus rantai tersebut dengan perencanaan keuangan yang
matang. Menurut hemat penulis tokoh Arini sebenarnya telah memiliki bekal untuk
mengelola keuangan dengan baik, namun dalam hal ini tantangan berkomunikasi
dengan seisi rumah menjadi problem utama. Dua generasi yang diwakili ayahnya
sebagai gen baby boomer yang kolot menolak diedukasi, dan arini sebagai gen z
yang terkesan nyolot dalam menyampaikan argumentasi.
Untuk keluar dari rantai generasi sandwich ini arini harus lebih bijak
menyikapi berbagai persoalan, perlahan memberikan edukasi yang terkesan tidak
frontal terhadap orang tuanya, dan mengajak adiknya andini untuk bekerja part
time agar income mereka bertambah, belajar membagi pengeluaran, menekan
pengeluaran untuk gaya hidup dan lebih mengutamakan kebutuhan hidup, melihat
barang-barang eksklusif yang bisa dilepas agar memiliki tabungan dana darurat
dan asuransi orang tua.


Posting Komentar untuk "Perang Paradigma Gen Z dan Gen Baby Boomer Dalam Issue Generasi Sandwich"
Posting Komentar